"Sri, Kapan Koe Bali?"

“Ndang balio Sri..ndang balio..aku loro mikir koe ono ning endi..ndang balio Sri..ndang balio..tego temen koe minggat ninggalke aku..”
Lengkap sudah syair lagu itu menerjemahkan penderiataannya. Setelah sepuluh tahun berlalu, tak sepatah kabarpun ia peroleh dari separuh nyawanya. Kini, hidupnya adalah separuh jiwa yang mati. Ia berikrar pada bumi dan langit untuk menyudahi nyawanya yang tinggal setengah. Ia ingin mati. Mati yang sempurna. Ia ambil sebilah pisau dapur. Matanya nanar memandang bagian dadanya yang bidang. Sekali saja ia hujamkan pisau itu di tengah dadanya, maka sempurnalah matinya. Ia pejamkan mata. Menarik nafas dalam-dalam. Membulatkan rencana menyudahi nyawanya yang tinggal separuh itu.
Namun, fikirannya tak lekas membulatkan rencana itu. Sebaliknya, fikirannya membulat pada sebuah wajah perempuan. Semakin bulat, semakin nyata. Wajah, senyum, dan bagian-bagian tubuh  yang begitu tak asing baginya.
“Mas, tunggu aku pulang…!”
“Tidak Sri, bukan kau yang akan ku bulatkan di kepalaku. Kau sudah mati Sri, tunggu aku Sri!”
Perempuan itu melayang-layang di atas kepalanya. Sesekali senyumnya menyumbal. Pada penghabisan pandangan, matanya memuntahkan air. Lantas lenyap berganti warna hitam. Lengkaplah ketidakbulatan rencana lelaki itu. Pisau yang semula erat di genggamannya kini lunglai di tanah. Matanya terbuka. Ia menangis. Airnya seperti air mata yang muntah dari mata perempuan itu.
Berhenti menangis, giliran sepi menggantikan mata pisau dapur di tanah. Mata sepi itu benar-benar menusuk jantungnya. Bukan menghabisi nyawanya yang separuh, namun ia rasakan seolah kehidupan lain hadir dalam dirinya. Entah hidup apa namanya. Ia memutuskan untuk berlari kencang. Lebih kencang dari angin senja yang menerpa tubuhnya tatkala dulu ia bertemu dengan Sri di sebuah bukit kecil. Ia terus berlari. Ia tabrak benda apapun yang ada dihadapanya. Lelah dan berdarah, jatuh dan bangun ia berlari menuju bukit kecil itu.
Di tengah sengal nafasnya, ia sempat mengutuk perbuatannya itu. Benaknya, kenapa ia jadi seperti anak kecil? Bukankah sebenarnya sangat sederhana hidup ini? Pada mulanya hanyalah sebuah pertemuan dengan seorang perempuan yang ia panggil Sri. Keduanya menikah. Selanjutnya adalah harapan.
Ya, harapan. Harapan akan hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Sri pergi merantau ke negeri seberang. Setahun dua tahun, Sri menyisihkan rezeki untuk suaminya. Ia berpesan pada suaminya untuk membangun rumah sederhana di bawah bukit. Dan baru setengahnya saja rumah itu berdiri. Tiga tahun empat tahun Sri jarang menyisihkan rezekinya. Lima sepuluh tahun tak ada kabar sama sekali. Usaha untuk memenuhi harapan hidup itulah yang menjadikan hidup tidak sesederhana yang mereka pikirkan.
Selanjutnya, lelaki itu menyadari bahwa hidup memang tidak sederhana. Dan di atas bukit kecil, ia seperti menyesali hidup. Menyesali pertemuannya dengan Sri.
Penyesalan yang kini ia rasakan, selaksa mengamini bahwa apa yang baru saja terjadi dalam dirinya bukanlah perilaku anak kecil. Pikirannya kembali setengah bulat pada rencana awal. Rencana menghabisi separuh nyawa dalam tubuhnya. Baginya, hidup hanyalah penderitaan. Penderitaan itu menyulap dirinya menjadi mahluk yang asing. Entah mahluk apa namanya. Sungguh ia merasa terasing. Sangat asing dari asing itu sendiri. Ia kembali berlari menuju rumah. Membulatkan rencana menghabisi separuh nyawanya dengan pisau dapur.
Sampai di rumah, bukan kepalang terkejutnya. Matanya menangkap sesosok jasad perempuan yang bersimbah darah. Lantai tanah berubah merah. Sebuah pisau menancap di dada jasad itu. Lelaki itu begitu akrab dengan jasad itu.
Ia kembali menyesal. Jika saja pisau dapur itu ia buang tentu ia tidak akan melihat jasad perempuan itu. Atau bila saja pisau dapur itu ia kubur, tentu ia tidak akan melihat genangan darah di lantai rumahnya. Kini, genaplah ia menjadi lelaki yang kesepian dan terjangkit penyakit keasingan. Sejak saat itu, ia pasrahkan hidupnya pada alam.
“Aku tidak akan menghabisi nyawaku yang tinggal separuh ini” begitu nyanyinya pada setiap orang yang lewat di depan rumahnya. “Hai..aku mencintai hidupku yang sepi dan asing ini. Aku menyayangi ketragisan ini. Sungguh aku menyayanginya!”
Orang-orang terlanjur menganggapnya gila. Mereka membiarkan lelaki itu bernyanyi sendiri. Pada satu kesempatan, tak jarang orang-orang melihatnya menangis. Pada kesempatan lain, mereka melihat lelaki itu terbahak-bahak. Menubrukan kepalanya pada tiang-tiang teras rumahnya. Menari-nari. Meraung-raung. Sejadi-jadinya.
Agaknya perilaku lelaki itu dianggap telah bertentangan dengan peraturan kampung. Oleh karenanya, atas kesepakatan warga dan sesepuh kampung, lelaki itu di arak ke atas bukit.
“Kenapa kalian mengarakku!” protesnya.
“Karena kau lelaki gila” pemuda tanggung menyahutnya.
“Hai…aku tidak gila. Aku masih waras. Aku hanya kehilangan separuh nyawaku” katanya. Tak ada suara menimpalinya. Setelah mengikat kedua kakinya, warga pergi meninggalkannya.
“Tunggu…! Sesepuh kampung, tolong lepaskan tali di kakiku ini. Aku tidak gila. Aku waras, sesepuh!”. Tak ada suara. Warga membalikan badannya lalu pergi meninggalkan lelaki itu. Tak ada apa-apa. Yang ada hanya suara lelaki itu, semakin jauh dari telinga warga.
Hujan membasahi kampung. Kalen-kalen berwarna coklat. Talang-talang luber. Dinding-dinding rumah setengahnya kotor. Bacin paceran membuncah. Tai-tai terbawa air. Sampah-sampah berserakan. Hujan terus berlanjut. Sejak lelaki itu diarak warga siang tadi, hujan belum lelah membasahi tanah. Bahkan, kini mulai membanjiri rumah-rumah warga. Mulanya semata kaki orang dewasa. Lama kelamaan selutut, sepusar, lalu sedada orang dewasa. Beberapa warga yang beranak kecil meninggalkan rumah menuju ke tempat yang lebih tinggi. Di kampung itu hanya ada satu tempat tinggi. Tempat dimana lelaki itu diikat warga. Suara kentong sebanyak lima kali ketukan membuat warga berduyun-duyun naik ke tempat yang lebih tinggi. Bagi sebagian warga yang telah berada di atas bukit, kampung mereka berubah menjadi lautan berwarna coklat.
“Sesepuh, kenapa hujan ini menenggelamkan kampung kita!” seseorang bertanya pada sesepuh kampung.
“Apakah para dewa sedang marah!” lainnya menyahut. Sesepuh terdiam. Ia teringat lelaki gila yang tadi siang diarak. Ia berlari ke puncak bukit. Sesepuh kaget. Air hujan yang menenggelamkan kampung rupanya bukan dari langit, tapi dari mata lelaki gila itu. Ia sedang menangis. Dan, air matanya menenggelamkan kampung.
“Hentikan tangisanmu wahai lelaki gila!” pinta sesepuh.
“Sesepuh! Jangan suruh aku berhenti menangis. Aku sedang menikmati tangisanku ini. Tangisku ini adalah tangis bahagia. Ternyata aku hidup bahagia, sesepuh!” jawabnya.
“Hentikan tangisanmu, su! bentak sesepuh.
“Ha...ha…aku tidak mungkin menghentikan tangisan ini sesepuh, aku sedang berbahagia.
Sungguh bahagiaku ini adalah bahagia yang tak ada bandingnya. Mari ikut menangis saja sesepuh, biar aku bisa berbagi kebahagiaan. Lihatlah wajah-wajah penduduk kampung sesepuh, lihatlah kecemasan memoles wajah-wajah mereka ha..ha..Lihat juga wajahmu sesepuh, wajahmu pucat. Matamu menyimpan kecemasan dan keputusasaan. Lihatlah dirimu sesepuh?”. Sesepuh kampung berlari ke bawah bukit. Dan kembali ke atas bukit dengan seorang perempuan yang berlumur darah. Melihat perempuan berdarah itu, lelaki gila berhenti menangis. Hujan reda. Pelangi melengkung di seberang kampung.
“Lihat siapa yang ku bawa ini lelaki gila, ha…ha…!”
“Bunuh saja aku sesepuh!” rintih si lelaki.
“Membunuhmu berarti melanggar hak azasimu. Agar air matamu tidak menenggelamkan kampung, biar ku ikat saja jasad perempuan ini di depan matamu. Ha..ha..!” sesepuh menang. Selesai mengikat jasad perempuan itu pada sebuah batang pohon, sesepuh pergi meninggalkan lelaki gila itu.
Sepi kembali menyergap. Lelaki itu terdiam. Air matanya tertahan. Kebahagiaan yang baru saja ia tumpahkan, kini lenyap. Jasad perempuan di hadapannya seolah tertawa setelah merebut kebahagiaannya. Ia ingin membuang jasad itu, namun kakinya terikat.
“Sri, aku tak bisa berbuat apa-apa. Biarlah kebahagiaan yang sedetik aku nikmati, kini menjadi milikmu selamnya. Di hadapanku, wajahmu kini nampak asing. Bibirmu pucat. Matamu terpejam. Senyummu sulit ku terjemahkan. Sekarang aku sangat menderita Sri, hidupku tidak sesederhana yang aku kira. Begitu sebentar bahagia yang ku rasakan setelah sepuluh tahun menderita kesepian dan ketragisan. Sayang kau tidak melihat kesedihan dan kesepianku selama ini, atau sepuluh tahun terahir ini. Kadang aku berlimpah bahagia, juga ruah sepi pada saat yang sama. Sri…” kerongkongannya tersumbat. Sebagian kalimatnya lenyap. Lelaki itu hanya bisa melanjutkan kata-katanya dalam pikiran. Ia kembali pasrah. Menyerahkan hidupnya pada alam. Membiarkan kebahagiaan yang hanya sedetik berganti kepahitan yang tak bisa ia perkirakan rampungnya. Sayup ia dengar alunan syair lagu dari bawah bukit.    
“Mas, sepurane wae. Kang mas ojo ngarep aku bali. Aku njaluk tulung ikhlas ing atimu. Iki wis dadi pilihan uripku…”

Dagan Legok, 6 November 2010

Sirin


Mestinya, ia tidak harus pergi ke sawah sepagi ini. Namun, batasan umur tak membuatnya patah harapan untuk mengais rezeki. Ia kubur dalam-dalam perkiraan nasib mujur yang dulu ia gambarkan. Dan, ia menjadi terbiasa berkata pada dirinya bahwa nasib memang tak mudah ditebak. Betapa tidak, sebagai pensiunan penjaga sekolah negeri, tentu ia tidak harus pergi ke sawah sepagi ini. Seperti laki-laki renta lain di kampungnya, mestinya ia tinggal menikmati hari tua dengan meminum kopi atau menimang cucu di pagi hari. Apa hendak dikata, tak ada cucu, juga tak ada secangkir kopi sepagi ini. Nasib tak mudah ditebak! Demikian jawabnya jika pertanyaan-pertanyaan tersebut terjaga dalam kuburan ingatannya.
Orang-orang memanggilnya Sirin. Rautnya yang lapuk, membuat orang lupa nama aslinya. Ia hanya dipanggil Sirin. Ya, Sirin saja. Tanpa gelar, tanpa sebutan kehormatan. Semisal bapak, pak, eyang atau apapun yang menunjukan kehormatan. Sesuatu yang tak lazim bagi seorang pensiunan di kampungnya. Meski demikian, terkadang Sirin merasa miris. Bayangkan jika sekolah tempat dulu ia bekerja tidak mempunyai seorang penjaga. Apalagi, saat itu banyak pengangguran yang berpotensi menghilangkan barang-barang berharga milik sekolah. Atas perjuangannya, hingga ia pensiun, sekolah tampak aman dari ancaman pencurian. Belum lagi jika ia teringat akan masa-masa bekerja sebagai penjaga sekolah, nyaris tidak pernah tidur semalaman. Namun rasa miris itu ia tepis. Toh, baginya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana bertahan hidup. Dan ia berkesimpulan bahwa tidak ada hubungannya antara nasib dengan gelar kehormatan.
Sirin cukup bersyukur. Meski tebakan nasibnya meleset, namun rupanya nasib juga yang masih memberinya kekuatan untuk bertahan hidup. Seperti pagi ini misalnya. Nasib masih memberikan kekuatan untuk pergi ke sawah, mencari kayu bakar, atau setidaknya memberikan kekuatan untuk mengusir rasa kesendiriannya.
Para lelaki seumur Sirin di kampungnya kerap menasehati untuk mencari pendamping lagi. Setidaknya, jika ia beristri lagi, ia tinggal menyeruput secangkir kopi di pagi hari. Atau, paling tidak ia dapat berbagai cerita tentang nasib hari ini kepada istrinya. Namun, nasehat-nasehat itu ia anggap angin lalu. Baginya, ia hanya ingin bertahan hidup sebelum Tuhan meminta kembali pada-Nya.
Kondisi seperti itu, membuat Sirin dapat merasakan bagaimana menjadi seorang perempuan bagi dirinya. Masak nasi di pagi hari, mencuci gerabah, pakaian, dan menyapu lantai tanah kamarnya. Setelah itu, ia berganti peran menjadi seorang laki-laki. Pergi ke sawah, mencari kayu bakar, dan menjualnya. Semuanya ia kerjakan sendiri. Tak apalah hidup sendiri, kata Sirin. Toh dalam keyakinannya, seorang lelaki kelak hidupnya sendiri. Keyakinan itu pula yang menjadikannya bersyukur dilahirkan oleh Tuhan sebagai laki-laki. Ia tidak dapat membayangkan jika ia terlahir sebagai perempuan. Tentu lebih banyak kerepotan, katanya.
Meski sendiri, ia tidak pernah meminta-minta kepada tetangga. Sirin tidak suka merepotkan orang lain, kecuali ada yang memberinya secara suka rela. Pun, ia tidak terlalu banyak berharap pada pemberian orang. Ia ingin membuat hidupnya lebih mudah. Tidak terlalu banyak berfikir, dan tidak hanya duduk diam. Ia akan mengerjakan apa pun yang ia mampu kerjakan.
Hanya satu kebiasaan Sirin yang barangkali tidak lazim bagi para tetangga. Ia lebih suka menyendiri di rumahnya selepas bekerja. Ia tidak suka bergaul dengan tetangga, dan tidak suka keramaian. Pernah suatu hari, ia bergaul dengan para tetangga, namun ia menjadi bahan tertawaan dan ejekan.
Ada yang mengatakan Sirin bodoh, ada yang menuduhnya setengah gila, ada juga yang menuduhnya tidak normal. Sejak ia kerap menerima kata-kata seperti itu, ia lebih suka menyendiri. Dunia tak lagi ramah, kata sirin, jika ia mengingat kata-kata ejekan itu. Ia dianggap bodoh ketika ia ketahuan tetangga menjual ayamnya di pasar dengan harga yang sangat murah. Jika ia tidak bodoh, tentu ia akan menjual ayamnya lebih mahal, kata beberapa tetangga. Sirin sendiri heran. Ayam yang ia jual adalah ayamnya sendiri. Harga yang ia tawar adalah tawarannya sendiri. Kenapa harus dianggap bodoh?.
Dan tuduhan setengah gila, kata Sirin, dituduhkan ketika ada seseorang yang mengetahui Sirin berbicara dengan ayam-ayamnya. Ia tak habis fikir. Kenapa ia yang berbicara kepada ayam-ayamnya harus dicap setengah gila?. Mereka tidak tahu, ayam-ayam itu adalah hidupnya. Si jalu, adalah ayam yang selalu setia membangunkannya dikala tetangga masih terlelap. Dan, ia merasa hanya si Jalulah -meski ia telah menjualnya- yang mampu memahami keadaan Sirin. Kemudian kasus yang membuatnya dianggap abnormal adalah ketika Sirin suka memberikan uang jajan kepada anak-anak kecil di kampungnya. Padahal, untuk makan sendiri pun masih kurang. Apakah ia abnormal, katanya, memberi uang jajan kepada anak-anak? Toh uang yang ia berikan tidak seberapa. Dan yang terpenting tidak setiap hari, katanya.
Kadang Sirin merasa heran. Apakah dia yang sudah gila, atau mereka para tetangga? Ah, Sirin tak mau ambil pusing dengan anggapan itu, meski ia jadi lebih suka menyendiri. Baginya, ia sudah berprinsip bahwa ia akan menjadikan hidupnya lebih mudah dan sederhana.
Seperti pagi ini misalnya. Seseorang meminta Sirin untuk membajak sawahnya. Ia cukup senang. Membajak sawah artinya, dalam satu hari, ia akan diberi upah yang cukup untuk makan tiga hari. Jika ia mampu merampungkan pekerjaannya dalam tiga hari saja, maka ia sudah dapat menyimpulkan akan mampu bertahan hidup selama sembilan hari, sambil menunggu pekerjaan lainnya, jika ada.
Matahari di atas kepala. Tiba waktunya bagi Sirin untuk beristirahat sejenak. Ia buru-buru berlari menuju sumber mata air. Dengan kedua telapak tangannya yang masih kotor, ia meminum sebanyak air yang dapat ia tampung. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya. Namun, ketika hendak berdiri, pandangannya dipenuhi kunang-kunang. Selang beberapa detik, semua berubah hitam. Ia merasa seperti terhuyung lalu ambruk.
Tubuhnya penuh dengan lumpur. Tangannya masih sempat bergerak mencari sesuatu yang dapat dijadikan pegangan untuk berdiri. Ia tertolong oleh sebuah tonggak jati yang bersemi. Tubuhnya terhuyung. Lalu ia duduk bersandar. Pandangannya masih gelap.
Dalam kegelapan pandangannya, Sirin menangkap bayangan serombongan perempuan bergaun putih dengan rambut lurus sepunggung menaiki kereta kuda. Rombongan itu menuju ke arahnya. Sirin terkejut. Sepertinya ia tidak asing dengan salah satu perempuan yang duduk di tengah rombongan itu. Ia tatap perempuan itu dengan tajam.
Rambut lurus itu, benaknya, pernah ia cium. Mata itu, pikirnya, pernah ia kecup. Hidung itu, bibir itu, dagu itu, dada itu, kaki itu…
“Sri,?” tanyanya, tak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
“Akhirnya kau kembali, Sri. Ayo kita pulang. Aku masih sendiri Sri?” pinta Sirin.
Perempuan itu turun dari kereta kuda. Tangannya maju ke arah kepala Sirin. Jarinya yang lembut membelai rambut Sirin. Pelan, dan sangat halus. Mata Sirin terpejam. Belaian tangan itu, sungguh membuatnya tenang. Kelembutan jari-jari itu, adalah bagian semangat hidupnya dulu. Sirin merasa benar-benar dekat dengan perempuan itu. Pelan ia buka kedua matanya. Memastikan secara seksama bahwa tangan, jari-jari, dan belaian itu adalah milik Sri.
Namun, bukan kepalang terkejutnya ketika Sirin membuka kedua matanya. Perempuan itu berganti dengan rupa mengerikan. Rambutnya memutih. Mulutnya melebar. Perutnya membusung. Tangannya basah darah. Jari-jarinya berkuku panjang, siap mencengkeram dan merobek wajah Sirin. Ia melompat ke belakang, menghempaskan pukulan tangan ke arah perempuan itu. “Brakk!”.
Sirin tersadar. Ia rasakan kedua tangannya seperti terikat penjalin yang sangat kuat. Kedua kakinya seperti dirantai. Ia tidak bisa bergerak. Matanya terbuka. Lebar, dan semakin lebar. Ia terkulai lemah. Detak jantungnya pelan. Samar, ia dapati puluhan pasang mata menghujani pandangannya. Selang beberapa saat ia sadar, ia tengah dikerumuni penduduk.
“Syukurlah kau sudah sadar Sirin. Mulutmu tadi meracau memanggil-manggil Sri” uacap seorang tetangga.
“Benarkah aku memanggil nama Sri?” ucap Sirin, mengingat perempuan yang baru saja membelai rambutnya.
“Ya, kamu menyebut nama Sri, dan kau seperti memukulnya, hingga dipan yang menyangga tubuhmu ini hampir roboh!”
Sirin mencoba duduk. Melihat Sirin telah sadar sepenuhnya, para tetangga membubarkan diri.
Baru saja Sirin hendak meluruskan badan, sesosok anak kecil masuk tanpa mengetuk pinta. Sirin tahu betul anak kecil itu. Ia anak yang sering diberi uang olehnya. Tanpa basa-basi, bocah itu langsung menghujani pertanyaan bertubi-tubi kepada Sirin, perihal peristiwa yang baru saja ia alami.
Katanya, Sri adalah bekas istrinya. Dia pergi meninggalkan Sirin tidak lama setelah Sirin pensiun. Rupanya Sri tidak cukup kuat hidup dengan Sirin yang hanya mengandalkan uang pensiuanan tak seberapa. Ia meminta cerai, dan meminta agar kuasanya diberikan kepada Sri untuk mengambil uang pensiuanannya. Sejak saat itu, Sirin tidak bisa lagi mengandalkan uang pensiun karena sudah dilimpahkan kepada Sri. Yang paling menyakitkan, kata Sirin, adalah ketika anak-anaknya mengikuti ibunya.
Sejenak Sirin berhenti bercerita. Matanya tajam memandang wajah bocah kecil yang bersimpuh di hadapannya. Ingatannya melayang pada sosok bocah kecil serupa di hadapannya. Dua tahun lalu, ia berumur satu setengah tahun. Polahnya hampir sama dengan bocah yang seperti sedang menyimak dongeng di hadapannya. Hanya, bocah di depannya itu enam tahun lebih tua.
Sirin lantas melanjutkan ceritanya, setelah bocah itu merengek menghiba. Dan yang pasti, lanjut Sirin, ia tidak bodoh. Tidak setengah gila, dan tidak abnormal. Ini hanyalah jalan hidup yang mesti ia lalui, katannya. Bocah itu mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti betul perasaan Sirin.
Hidup ini nak, kata Sirin, tidak semudah yang kita bayangkan. Tidak ada satupun jaminan kita akan hidup lebih baik, meski dalam padangan orang, kita dinilai lebih baik dari mereka. Apalagi, tambah Sirin, engkau terlahir sebagai lelaki.
“Apakah aku contoh yang baik atau yang buruk, engkau yang menilainya, Nak?” ucap sirin, menitikan air mata.
Bocah itu berdiri. Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas tubuh Sirin. Kedua tangannya memeluk Sirin. Sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Sirin, bocah kecil itu berucap lirih.
“Eyang…?”
“Terima kasih, Nak, kau telah memanggilku eyang…”

Purbalingga, November 2010

Pulang


Pulang! Bagiku adalah, kesunyian kampung yang bersahaja. Dalam arti lain, dambaan, harapan, sekaligus sambutan hangat dari wajah-wajah penduduk yang ramah. Arti ini pula yang dulu aku tinggalkan di kampung. Kini, setelah berpuluh-puluh tahun hidup di kota, aku memutuskan untuk pulang. Juga masih dengan arti kepulangan yang tetap.
Potongan berbentuk segi empat terlihat jelas dari kaca bus. Segi empat yang tampak hitam, dan lengang. Segi empat itu pula yang dulu mengantarku meninggalkan kampung. Persisnya aku lupa. Berapa waktu aku tabung dalam ingatanku. Kelupaanku ini, ku simpulkan karena keriuhan kota yang tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam otakku untuk menyimpan kesunyian. Kemungkinan yang mendekati kebenaran barangkali sekitar sepuluh tahun. Lebih sehari atau dua hari, aku hidup di kota.
Keputusanku untuk pulang, tak lain disebabkan oleh kerinduan yang menikam, atas telapak kaki ibu. Atas doa-doa yang kerap ia peras dari pertiga malam. Juga atas butiran air yang meleleh dari setiap sudut matanya. Lelehan sunyi yang menyimpan banyak ragam dan jenis pengharapan. Dari seorang ibu kepada anaknya.
Di kota, kerinduan merupakan kata yang murah. Lebih murah jika dibandingkan dengan kata ingat, kangen, sayang, atau bahkan cinta. Kata-kata seperti profesionalisme, tepat waktu, karir, jam tangan, dan uang, merupakan daftar kata yang mahal. Karena mahal inilah, orang-orang di kota selalu berusaha membelinya. Bagi mereka, jika kata-kata yang mahal telah terbeli, maka tidak akan susah untuk membeli kata-kata yang murah. Logika ini aku terima pada awalnya. Namun, beberapa hari sebelum aku memutuskan untuk pulang, logika ini tampak tidak logis, dan terkesan monoton. Suatu jenis penyakit orang-orang kota. Demikian aku menamainya.
Aku tak bermaksud untuk memindahkan isi otakku setibanya di kampung nanti. Justru karena isi otakku penuh dengan banyak hal yang monoton, maka aku perlu memasukkan sesuatu yang segar dalam otakku. Orang-orang kota sering menyebutnya dengan refreshing, liburan, dan atau lain-lain. Kecuali, jika memungkinkan, tentu dengan beberapa prasyarat, aku akan menumpahkan, atau tepatnya membuang semua isi otakku di kali belakang rumahku. Misalnya, riak air aliran kali yang jernih, pinus-pinus yang lancip, dan kalimat-kalimat sederhana dari mulut-mulut penduduk kampung.
Jika keputusanku untuk pulang karena alasan rindu, maka keberangkatanku ke kota dulu didasari alasan tradisi. Yaitu, merantau. Banyak penduduk sebayaku pergi merantau. Dan, mereka kembali pulang setelah punya cukup bekal cerita dari kota yang akan dikisahkan kepada orang tua, tetangga atau handai tolan. Juga sedikit uang tak seberapa. Dan kepulangan itu menyimpulkan sebuah kehormatan, atau sebaliknya. Tapi, aku tak yakin. Kepulanganku yang hanya atas alasan rindu dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang terhormat. Apalagi jika harus ada syarat sedikit uang. Aku tak membawanya.
Kehormatan? Rasanya kata ini baru muncul pada perjalanan pulang ini. Puluhan tahun aku tak memahami kata kehormatan di kota. Apakah kehormatan di kampung juga harus diukur dengan nominal uang seperti di kota? Jika demikian, tentu tak ada bedanya antara kota dan kampung. Jika pemikiaran subyektifku ini benar, apakah kepulanganku juga sebuah kesia-siaan?. Keyakinan untuk menjawab “tidak” lebih menebal dalam hatiku ketimbang menjawab “ya.” Kesimpulkanku sementara, kepulanganku merupakan suatu kehormatan. 
***
Jalan-jalan yang menanjak dan berbelok itu, seakan menahan bus yang aku tumpangi. Meminta ruang-ruang dalam otakku agar setiap apa saja yang aku pandang dari dalam bus ini masuk kedalamnya. Satu per satu, benda apapun itu, lewat di depan mataku, sebelum akhirnya mampir dan mengendap dalam otakku. Sebuah pohon albasia, pelan, lewat di depan mataku. Batangnya yang menjulang, adalah sebuah kisah kematian penduduk dalam mempertahankan kelanjutan hidup binatang piaraannya. Kematian yang hingga detik ini masih bermakna ganda bagiku. Mati demi ternak kambing, apakah sebuah mati yang terhormat atau tidak, aku tidak tahu. Juga bukit-bukit karang itu, masih tetap putih. Bentuknya yang tidak utuh, adalah sebuah kisah tentang ratusan hulu ledak, dan ratusan nasib yang menggantung. Juga ratusan keheningan jika ada yang terkena ledakan. Ketika aku berangkat ke kota, yang mati baru satu. Entah sekarang.
Ah, benda pengangkut yang ku tumpangi ini terasa kian berat membawa tubuhku yang hanya lima puluh kilo gram. Ditambah dengan berat badan supir, dan tiga penumpang lain di belakangku. Jika ditotal hanya mendekati beban lima kwintal kurang. Padahal, dalam surat-surat bus ini tertera angka dua ton kemampuan jalan. Tapi, ini sungguh-sungguh berat. Sangat berat. Laju bus jadi sangat pelan. Hal ini membuat semakin banyak benda yang lewat di depan mataku.
Giliran seorang perempuan lewat di depan mukaku. Aku melompat. Menubruk perempuan itu. Ia diam saja. Tubuhnya ku peluk hingga tenaga terakhirku. Ia masih berdiam diri. Setelah ku jambak rambutnya, baru ia tersenyum padaku.
“Kau kah itu?” tanyaku, mengacu pada sosok perempuan yang menjadi alasanku pulang.
Ia hanya tersenyum. Manis. Sangat manis. Bibirnya merah kinang. Gigi-giginya putih karang. Lebar, melebar, terus melebar senyumnya. Hingga ku tempelkan biji mataku, ia terus tersenyum. Semakin dekat, semakin ku rasa keganjilan dalam senyumnya. Bibir itu berlumuran darah. Gigi-gigi itu berganti taring yang siap mencabik mataku. Aku melompat ke belakang. Ia bukan perempuan itu. Aku tertunduk lemas. Sebuah tangan menyentuh pundakku.
“Sudah sampai mas?”
Aku terjaga. Ku usap kedua biji mata. Bus kembali melaju untuk sebuah keberangkatan, atau mungkin sebuah kepulangan. Entah.
Sunyi menyergap dari berbagai penjuru. Sunyi yang tidak asing meski lama ku tinggalkan. Sunyi yang menyimpan aroma kemarau. Penyimpan jati diri yang tak bakal lekang dimakan zaman. Aroma kampung.
Sebuah bukit tegap menantangku. Gambarnya hitam dimakan senja. Hanya lekukan lancip berlapis. Sebagian lancip ku anggap sedang tersenyum memandang kepulanganku. Sebagaian yang lain, entah aku menganggapnya atau tidak, tampak seperti raut muka berduka.
Aku membutuhkan waktu enam puluh menit untuk sampai di bukit itu. Atau mungkin lebih dengan berjalan kaki. Beberapa tukang ojek menawarkan jasa. Tapi ku tolak semua. Perasaan gembira menyeruak. Membangunkan bulu kuduku yang lelah digoncang bus. Gembira yang aneh tapi terasa nyata. Sangat nyata. Senyata kesunyian jalan-jalan ini. Kegembiraan yang tak bersyarat.
Ku ayunkan kaki. Selangkah dua langkah. Jadi sekian langkah. Semakin banyak langkah, semakin banyak gembira menghampiri. Ada beberapa gembira yang aku kenali sejauh langkah yang telah ku tempuh. Seperti gembira yang berderet di sepanjang jalan ini. Mereka adalah gembira-gembira para penggembala. Gembira para tubuh-tubuh petani berkeringat penuh semangat. Dan selalu bernyanyi “ya” pada hidup. Gembira-gembira itu kini erat memeluk tubuhku.
Ada juga beberapa gembira yang tak aku kenali sebelumnya. Mereka duduk di menara-menara pohon kelapa. Di pohon-pohon albasia. Gembira yang berwajah setengah pucat. Gembira yang menampilkan antara senyum atau tidak senyum. Jenis gembira ini membuatku berhenti melangkah. Menundukanku pada sebongkah batu lempung longsoran. Membuat gembira-gembira yang aku kenali pelan-pelan melepaskan pelukannya. Senyumku tersumpal. Antara berhenti atau tetap melanjutkannya.
“Jenis gembira apakah kalian?” tanyaku.
“Kami adalah gembira-gembira yang kehilangan arti hidup. Kami adalah gembira-gembira yang terkubur oleh hiruk pikuk sunyi di kampung ini. Kami adalah gembira-gembira yang dipaksa mengamini keadaan. Mengamini sesuatu yang bukan kegembiraan. Atau dengan kata lain, kami adalah kegembiraan sekaligus ketragisan”.
Tubuhku ambruk ke tanah. Air mataku meleleh. Begitu cepat kegembiraanku lenyap. Berganti luka sunyi yang menganga. Aku paksa kakiku untuk berlari. Meninggalkan sunyi sejauh mungkin. Meninggalkan gembira-gembira yang tak ku kenali. Hingga aku berhenti di sebuah perbatasan. Lima belas menit lagi, aku sampai di rumah. Semakin melangkah, lima belas menit ini terasa semakin lama. Lebih lama dari gembira-gembira yang aku kenali.
Aku berlari. Menangis. Keras. Semakin keras. Lelah. Semakin lelah. Tubuhku ambruk. Kedua kakiku tertanam di dalam tanah. Kunang-kunang berhamburan. Kerlap-kerlip. Kuning. Menguning. Merah. Memerah dan hitam. Sepi. Sunyi.

***
Gelap menyergap. Ini ku maklumi, karena memang hari semestinya sudah gelap. Kemungkinan lain, aku buta setelah perjalanan panjang ini. Syukurlah, mataku seperti menangkap sinar sebuah benda langit yang jatuh. Mungkin bintang jatuh. Seketika aku berdoa. Semoga bintang jatuh itu mengantarkanku kepada perempuan berbibir merah kinang. Aku yakinkan kembali bahwa aku tidak buta, dan memang hanya hari yang sudah gelap, dengan menengok kanan dan kiri.
Astaga! Kenapa rumah-rumah itu tampak miring? Kaca-kaca jendela, teras-teras, kenapa miring? Tanya itu seketika terhenti. Sebuah wajah hitam menyergap mukaku. Tangannya ku rasakan mengelus kepalaku. Aku telah sadar, katanya. Rupanya aku jatuh pingsan. Wajah gelap yang segera ku simpulkan seseorang itu mengatakan demikian.
“Mati?”
“Dua hari yang lalu nak, tanpa meninggalkanmu warisan?”
Warisan? Aku tak butuh warisan. Lagi pula semua penduduk tahu, perempuan itu adalah perempuan miskin. Aku hanya butuh belaian tangannya. Dongeng-dongengnya. Juga tangisannya.
Membelai rambutku, itu berarti kasih sayang. Mendongeng, itu berarti aku sedang diajari kebaikan dan keburukan. Terkadang, kebaikan itu muncul pada sosok petani, dan keburukan itu nampak pada seekor kancil pada mimpiku. Dan tingisannya, adalah air berkah tentang dosa dan pengampunan bagi doa yang diucapkan.
Mati! Itu berarti tak ada belaian, tak ada dongeng, dan tak ada tangisan. Haruskah aku menangisi kematiannya?. Kenapa dia harus mati? Bagaimana bisa dia mati?
“Ini adalah nisannya, Nak?” orang itu menunjuk sebuah batu kecil, pada pagi harinya.
“Apakah dia telah mati, tuan?” tanyaku.
“Ya!”
“Tidak, dia tidak mati! Dia hanya pulang. Dan pasti akan kembali!"

Purbalingga, November 2011